INGGIT GARNASIH

Perempuan Di Balik Sosok Seorang Singa Podium

Kehidupan di dunia tidak akan pernah luput dari adanya masalah atau tantangan yang datang, terlebih kepada seorang tokoh nasional Indonesia yang telah sangat berjasa mengantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan dan dijadikan sebagai presiden pertama, yaitu Soekarno. Dikisahkan bahwa selama menjadi mahasiswa ITB di Bandung pada tahun 1921, dan merintis kiprahnya di dunia politik, beliau tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh sebuah keluarga. Singkat cerita, istri dari tuan rumah tersebut adalah seorang istri yang patuh pada suami, mandiri dalam kehidupan dan berani mengambil resiko. Dialah Ibu Inggit Garnasih.

Perempuan Sunda kelahiran 17 Februari 1888 ini kemudian menjadi istri kedua dari Bung Karno yang merawatnya dengan penuh kasih dan sayang. Kala itu Bung Karno tengah berumur 20 tahun dan Inggit berumur 33 tahun. Meski terpaut usia yang cukup jauh dan Ibu Inggit lebih tua, Bung Karno menganggap Inggit adalah sosok seorang ibu, kekasih dan kawan baginya. Buku berjudul Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dan Bung Karno, karya Ramadhan KH., merupakan buku yang menceritakan kisah cinta Bung Karno dengan Ibu Inggit, yang terbit pertama kali terbit pada tahun 1981.

Sebagai seorang istri, Inggit tentu bercita-cita menjadi seorang istri yang dibanggakan oleh suami, siap menghadapi segala perikehidupan suka dan duka bersama suami. Terlebih Bung Karno ini adalah manusia yang memiliki sejarah sangat penting bagi Indonesia. Menjadi istri seorang tokoh atau pahlawan nasional merupakan sebuah nilai plus bagi Inggit. Dalam buku yang telah tersebut di atas, banyak sejarah penting yang tidak terungkap, berupa hal-hal kecil yang mengitari kejadian-kejadian penting tersebut.

Dalam hal menjalin kehidupan rumah tangga, walau usia Inggit lebih tua 13 tahun ketika menikah dengan Bung Karno namun Inggit mampu menjadi seorang pendamping yang sepadan bagi Bung Karno. Perbedaan usia yang mencolok ini malah menjadi keuntungan bagi Bung Karno karena baginya Inggit bukan hanya sekedar kekasih dan istri, namun sekaligus ibu yang mengemong dan membimbingnya.

Inggit adalah perempuan sederhana, namun dalam kesederhanaan dan keterbatasannya itulah Inggit mampu membuat Karno muda tumbuh menjadi seorang pejuang yang tangguh. Ketika bersama Inggitlah Bung Karno merintis jalan politiknya, di Bandung ia mendirikan Partai Nasional Indonesia dan menjadi Singa Podium yang berjuang untuk kemerdekan Indonesia. Di masa ini Inggit memang tidak menjadi partnernya yang bisa diajak berdiskusi masalah pergerakan namun dengan ketulusan cintanya Inggit memberikan kasih sayang dan dorongan moril baginya, sesuatu yang tidak bisa diperoleh Bung Karno di arena gelanggang politiknya.

Ketika akhirnya Bung Karno ditangkap dan dipenjara di Banceuy Bandung, Inggit tetap setia, ia rajin mengunjungi dan mengirim makanan untuk suaminya di penjara. Untuk mendapatkan uang ia membuat bedak, manjadi agen sabun cuci, membuat dan menjual rokok hingga menjahit pakaian dan kutang. Kegigihan Inggit untuk menafkahi keluarganya saat Bung Karno dalam penjara, membuat Bung Karno sedih karena telah melalaikan tugasnya sebagai kepala rumah tangga, ketika hal itu disampaikan pada istrinya, Inggit memberinya semangat.

Saat Bung Karno sedang menyusun naskah pembelaannya Inggit membantu mencari dan mengirim data serta dokumen untuk referensi suaminya menyusun pembelaan. Inggit dengan berani menyelundupkan data dan dokumen yang diperlukan Bung Karno ke Penjara Banceuy. Agar tak ketahuan sipir penjara ia menyembunyikan naskah tersebut di balik kebayanya. Jerih payah Inggit ini membuat Bung Karno berhasil menyusun pembelaannya yang sangat terkenal, Indonesia Menggugat[1], yang dibacakan di Landraad Bandung, 18 Agustus 1930.

Dengan cerdas Inggit juga memberikan kode-kode rahasia tentang situasi di luar penjara baik melalui telur yang dibawanya atau melalui Al-Quran yang telah diberi kode rahasia kepada suaminya, dengan demikian walau setiap kunjungan selalu diawasi oleh sipir penjara, Bung Karno tetap dapat mengetahui baik buruknya situasi perjuangan saat itu.

Pengorbanan dan kesetiaan cinta Inggit tidak hanya terlihat ketika Bung Karno di Penjara. Masa-masa pembuangan di Ende dan Bengkulu menjadi saksi bagi ketabahan dan kesetiaannya pada Bung Karno. Sebetulnya Inggit adalah manusia bebas yang memiliki hak untuk tidak ikut bersama suaminya dalam pembuangan, namun cinta dan kesetiaannya pada Bung Karno membuatnya bertekad menyertai suaminya dalam suka dan duka.

Niatnya untuk mendampingi suaminya selama di pengasingan benar-benar diwujudkannya, di masa-masa sulit inilah Inggit menjadi peredam dan tempat berteduh bagi jiwa Bung Karno yang kesepian dan tertekan karena perjuangannya untuk memerdekakan bangsanya harus terhenti entah sampai kapan.

Ada juga sosok Ratna Juami yang merupakan anak angkat mereka, karena harus dikatakan bahwa Bung Karno tidak memiliki keturunan dari Inggit, hal itulah yang membuat mereka mengambil anak angkat, yakni Ratna Juami.

Kisah terakhir dari buku ini sangat memilukan namun juga sangat mengagumkan, dengan alasan Inggit tidak bisa memberi keturunan pada Bung Karno, dia memilih untuk menikahi Fatmawati yang merupakan anak angkatnya sendiri selama berada di Bengkulu. Alasan Bung Karno menikahi Fatmawati adalah karena ingin memiliki keturunan, yang bisa meneruskan sejarah kehidupannya. Namun, karena tidak ingin dimadu, Inggit mengggat cerai Bung Karno. Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya Soekarno resmi berpisah dengan Ibu Inggit, dengan syarat agar Bung Karno memberikan sebuah rumah pada Inggit, sebagai tanda balas jasa-jasanya.

“Ini tentang pengalamanku dengannya, dengan seseorang yang mementingkan segi membangkitkan semangat dan solidaritas bangsa untuk mencapai apa yang dicita-citakannya, apa yang sebenarnya kita cita-citakan bersama, yakni kemerdekaan bagi bangsa kita. Dibalik itu, ia pun adalah seorang yang sangat penuh romantika. Aku mengikutinya, melayaninya, mengemongnya, berusaha keras menyenangkannya , meluluhkan keinginan-keinginannya,.

Namun, pada suatu saat, setelah aku mengantarkannya sampai di gerbang apa yang jadii cita-citanya, berpisahlah kami, karena aku berpegang pada sesuatu yang berbenturan dengan keinginannya. Ia pun melanjutkan perjuangannya seperti yang tetap aku doakan. Aku tidak pernah berhenti mendoakannyaiā€¯ (Inggit Ganarsih, Kuantar ke Gerbang hal. 2)

Oleh Hilda Lisdianti


[1] Indonesia Menggugat adalah pidato pembelaan yang dibacakan oleh Soekarno pada persidangan di Landraad, Bandung pada tahun 1930. Soekarno bersama tiga rekannya, yaitu Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata yang tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Dari balik jeruji penjara, Soekarno menyusun dan menulis sendiri pidato tersebut. Isi pidato Indonesia Menggugat adalah tentang keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajah. Pidato pembelaan ini kemudian menjadi suatu dokumen politik menentang kolonialisme dan imperialisme. Lihat pada https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia_Menggugat

Dubalang
Dubalang

No Comments

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Recent Comments