Kiai Sadrach

Mempertarungkan Kristen Jowo dan Kristen Londo

Mengenal seorang tokoh tidak selalu dimaksudkan untuk mengetahui seberapa hebat diri tokoh tersebut atau mengetahui pengaruh yang dimunculkannya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Mengenal tokoh kadang kali, ini yang lebih saya yakini relevan untuk dikaji, ditujukan untuk melihat sebuah sistem kehidupan dan peradaban yang melahirkannya, membentuknya lalu memaksanya menjadi agen bagi tumbuhnya karakter peradaban tersebut.

                Sekali lagi, ketika yang ditilik adalah sebuah proses “genealogi dari” menuju “akan menjadi” (to be being), maka kita tak lagi terikat dengan jebakan-jebakan tema bermuatan agama, ideologi perseorangan ataupun konteks kedirian. Yang ingin dilihat adalah keseluruhan sistem tradisi yang sedang berlangsung; sebuah sistem yang mengatur segenap gerak dan putaran kehidupan manusia. Sistem ini terkadang bisa kita angkis dari pembongkaran seorang tokoh yang memang sejalan, sedarah dan bisa kita sebut protagonis, atau bisa kita angkis dari penyisiran terhadap tokoh yang berseberangan, tidak sejalan dan bisa kita sebut antagonis. Strategi pembacaan ini dimungkinkan karena binaritas sistem nalar yang menjadi keniscayaan bagi kemampuan daya pikir manusia itu sendiri.

                Strategi ini sama misalnya dengan moment ketika Edward Said memetakan definisi Timur sebagai sebuah wilayah yang eksotis, unik, aneh dalam posisisnya sebagai gantungan untuk mengaitkan definisi tentang Barat. Barat tidak mungkin bisa mendefinisikan dirinya sendiri dengan karakter-karakter modern, rasional, maju, tanpa adanya bandingan beda yang memperkuat dan mengentalkan karakter tersebut. Oleh karena itu mereka menciptakan Timur dan kerja Orientalisme dalam rangka untuk meneguhkan eksistensi mereka. Mengapa? Karena bangsa Barat tidak memiliki tradisi dan karakter darah sekuat bangsa-bangsa Timur, yang tanpa membutuhkan Barat sekalipun, sudah bisa mendefinsikan dirinya sendiri.

                Namun tidak mudah memilih atau menemukan tokoh “antagonis” semacam itu. Dengan mengangkat agenda untuk memperkuat apa yang kita percaya dari sistem tradisi kita, pemilihan tokoh yang bersebrangan harus diiringi oleh tatapan tajam terhadap unsur stabil yang menggerakkannya. Kesamaan dua stabilitas unsur inilah yang kemudian mempertemukan secara epistemologis antara yang sejalan dengan yang bertentangan. Kiai Sadrach berada dalam posisi semacam ini..

Kiai sebagai Kritik Kristenisasi [Barat]

Dalam pengantar buku Plesetan Lokalitas, Kiai Ahmad Baso memberikan satu brainstorming mengenai sesuatu yang “tidak biasa” dari kehidupan beragama kita. Romo Kuntoro, seorang romo kristen mengaku bahwa dirinya itu sudah gomo, bukan agomo lagi, “wes rusak!” Rusak dalam artian beliau sudah keluar dari sekat-sekat yang membatasi geraknya sebagai seorang kristen.

                Oleh masyarakat Jogja, Kuntoro lebih dikenal sebagai seorang dukun dibandingkan seorang romo. Bukan hanya orang kristen, orang Islam dan Budha juga sowan dan minta berkah dari Romo Kuntoro. Dalam artian, agama dalam kasus ini sudah keluar dari sifat “resmi”nya dan beralih pada makna “kultural”nya sebagai sesuatu yang diresapi dalam bentuk laku kehidupan. Resapan akan agama tidak harus selalu memendar sebuah distingsi apalagi hingga level sosial di antara pemeluk agama yang ada.

                Mengapa saya mulai dari kisah ini? Karena secara arkeologis Romo Kuntoro adalah anak cucu Kiai Sadrach.  Kiai Sadrach memang dikenal sebagai tokoh kristenisasi di Jawa pada akhir abad ke 19. Pengaruhnya sangat besar bagi tumbuh kembangnya kristen di Jawa, khususnya Jawa Tengah pada saat itu. Di bawah mendung kolonialisasi, perjuangan Kiai Sadrach dalam melakukan kristenisasi merupakan cerita unik tersendiri yang menjadikannya seorang legenda.

                Kristenisasi merupakan salah satu misi terselubung dari seluruh rangkaian agenda kolonialisasi. Perang salib, kolonialisme Mesir oleh Napoleon; seluruhnya mengindikasikan hal itu. Sebagai salah satu negara Eropa, Belanda tentu harus menunaikan kewajiban kulturalnya terhadap gereja yang menjadi otoritas mutlak kehidupan masyarakat Eropa. Selain mengeruk kekayaan bangsa Indonesia, kolonialisasi juga hendak mengkristenkan seluruh bumi pertiwi dan berlutut di bawah kekuatan gereja.

                Apa yang dilakukan Kiai Sadrach menjadi semacam keretakan psikis bagi kolonialisme Belanda. Mengikuti Lacan dan Fanon, Kiai Sadrach bisa kita posisikan sebagai bahan untuk melihat ambivalensi kolonialisme dalam wajahnya yang tak tunggal. Ambivalensi ini nanti akan terlihat dari sikap yang ditunjukkan sebagai respon terhadap kristenisasi yang dilakukan Kiai Sadrach.

                Kalaupun boleh membuat semacam analogi radikal, kristenisasi yang dilakukan Kiai Sadrach sama hanya dengan Islamisasi yang dilakukan oleh Walisongo. Sebuah proses yang secara “bungkus” sesuai dengan instruksi “pusat”, namun secara isi ia “memberontak”, “menyeleweng” dan “oposisi”.

                Kristenisasi selalu setia dengan sifatnya yang invansif. Di mana-mana kristen selalu ditampakan sebagai dogma yang harus dipaksakan diimani dan diyakini. Sifat invansif semacam ini hilang di tangan Kiai Sadrach, sebagaimana juga sifat invansif dalam Islamisasi hilang di tangan Waiisongo. Mengapa? Karena Kiai Sadrach mendialogkan ajaran kristen dengan kultur dan tradisi masyarakat Jawa yang ada.

                Dari medan perjuangan ini, Kiai Sadrach membabat sebuah lahan perlawanan yang sama sekali baru dan sulit disikapi bahkan oleh pihak kolonilisme sendiri. Ketika para Kiai antikolonal dalam Islam didata dan diawasi, maka Kiai Sadrach dengan tenangnya bergerak zig zag ke sana ke sini. Ketika pergerakan kaum Islam dan pesantren dibendung dan dibantai habis-habisan, pergerakan Kiai Sadrach dan pengikutnya mengambil bentuk lain yang mustahil dibendung oleh pihak kolonial.

                Saya menggunakan kata mustahil dari ketidakberdayaan kolonialisme merespon gerakan-gerakan sejenis Kiai Sadrach timbul dari ambiguitas kejiwaaan kolonialisme atau orientalisme itu sendiri. Analoginya: cerminan diri kolonialisme yang dipantulkan dalam cermin di samping tidak memantulkan gambaran aslinya, juga memantulkan gambaran tak tunggal karena Kiai Sadrach meretakkannya. Akibatnya, kolonialisme kelimpungan untuk kembali memilih kesadaran dan merepih keteruraian psikis mereka. Perdebatan pun muncul dalam internal pihak kolonial.

                Apa yang kita lihat dalam kasus Kiai Sadrach bukan hanya kontestasi antara pribumi dan penjajah, antara Timur dan Barat, antara yang mistik dan rasional, antara yang konservatif dan modern, namun juga ambivalensi serta keterpecahan ketidaksadaran kolonialisme dalam mendefinisikan dan memantapkan identitas diri mereka. Inilah alasan mengapa meskipun kristen, Sadrach masih dikenal sebagai kiai.

Ngelmu ing Pesantren: Melampaui Distingsi Religional

Mengapa pergerakan Kiai Sadrach bisa sedahsyat itu? karena sebelum memahami ajaran-ajara kristen dan melakukan kristenisasi, Kiai Sadrach belajar di pesantren dan berlatih sebagaimana orang-orang pesantren melakukan islamisasi. Di pesantren Kiai Sadrach ngelmu pada kiai, belajar kitab kuning dan aksara Jawa. Secara identitas Kiai Sadrach kuat karena lahir dan besar di Jawa, pertemuan pertama dengan guru Kristennya Tunggul Wulung pun turut memperkuat kekristenan jowo dalam dirinya. secara manhaji Kiai Sadrach kuat karena ngelmu di pesantren. Dua kekuatan yang menghancur leburkan sistem kesadaran kaum kolonial.[]

Oleh Hilmy Firdausy

Dubalang
Dubalang

No Comments

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Recent Comments